Terakhir diperbarui: 23 Desember 2025

Pulau Pari itu sering jadi “pelarian cepat” dari Jakarta—tapi juga sering jadi sumber drama kecil kalau kamu datang tanpa rencana. Drama yang nggak keren-keren amat: salah pilih pelabuhan, telat sampai dermaga, cuaca berubah, atau budget bocor karena ada biaya yang nggak kamu hitung.
Di panduan ini, kita bahas Pulau Pari dengan kacamata lapangan: yang enak di mana, yang bikin sebel di mana, dan keputusan apa yang paling ngaruh biar liburan kamu nggak zonk.
Pulau Pari adalah pulau penduduk di Kepulauan Seribu yang aksesnya relatif dekat dari Jakarta, jadi sering dipilih buat liburan singkat.
Vibes-nya lebih ke “pulau yang hidup”—ada rumah warga, warung, dermaga, anak-anak naik sepeda—bukan pulau yang disetting khusus wisata.
Kalau kamu turun pagi-pagi, yang kamu dengar bukan “welcome speech”, tapi suara mesin kapal, sapu lidi, dan obrolan warga yang kebawa angin.
Pulau ini nggak selalu tampil “wah”. Tapi justru itu poinnya: Pulau Pari ngajak kamu nurunin tempo.
Buat first-timer, tantangan utamanya bukan “pulau ini bagus atau nggak”, tapi gimana cara kamu ke sana dan gimana ngatur ekspektasi.
Kalau kamu pengin lihat gambaran pengalaman orang-orang (yang kadang jujur-jujurnya nyelekit), kamu bisa intip
review dan catatan lapangan Pulau Pari—biar kamu ngerti konteks, bukan cuma foto.
Kalau kamu males baca panjang, ini intinya.
- Mau hemat & “cara lama” yang klasik? Biasanya pilih kapal dari Kali Adem/Muara Angke. Durasi lebih lama, tapi budget lebih ramah.
- Mau cepat & lebih rapi? Biasanya pilih speedboat dari Marina Ancol. Lebih mahal, plus ada potensi biaya tambahan (misalnya tiket masuk Ancol).
- Cuma punya 1 hari? Bisa, tapi kamu harus siap berangkat pagi banget dan pulang sesuai jadwal kapal (nggak bisa santai-santai kebablasan).
- Pengen lebih santai (apalagi bawa anak/ortu)? 2H1M sering lebih masuk akal karena kamu nggak kejar-kejaran waktu.
- Budget kasar (tanpa ngarang angka): total biaya sangat tergantung kapal & penginapan. Kalau kamu butuh patokan, pakai tabel Budget Breakdown di bagian harga, lalu cek update terbaru.
- Rule of thumb: cuaca jelek = jangan keras kepala. Pulau nggak ke mana-mana, ego kamu aja yang perlu ditinggal.
Daya tarik Pulau Pari itu bukan cuma satu spot, tapi kombinasi: pantai yang gampang diakses, jalur sepeda yang santai, dan suasana pulau penduduk yang terasa “hidup”.
Kalau kamu datang cari ketenangan yang realistis—bukan kesepian total—Pulau Pari biasanya masuk.
Pantai Pasir Perawan sering jadi ikon Pulau Pari. Airnya bisa terlihat jernih di kondisi tertentu, dan garis pantainya lumayan nyaman buat duduk-duduk.
Tapi aku juga harus jujur: weekend bisa ramai, dan ramai itu kadang datang bareng suara speaker, antrean, dan sampah nyasar.
Kalau kamu pengin versi yang lebih “tenang”, datang lebih pagi atau pilih weekday.
Selain Pasir Perawan, beberapa pantai yang sering disebut di Pulau Pari antara lain Pantai Bintang dan Pantai Rengge.
Kondisi pantai bisa berubah tergantung musim, pasang-surut, dan pengelolaan setempat.
Jadi treat ini sebagai opsi, bukan janji. Kamu datang, lihat kondisi, lalu putuskan mau nongkrong di mana.
Pulau Pari juga dikenal punya area mangrove yang bisa jadi selingan dari agenda “pantai terus”.
Jalur mangrove ini cocok buat kamu yang pengin jalan pelan, foto-foto, atau sekadar ngadem dari matahari yang suka over-achiever.
Kalau kamu tipe yang gampang bosan, mangrove ini bisa jadi penyelamat. Minimal, kamu nggak cuma pulang bawa kulit gosong.
Pulau Pari itu enaknya karena kecil—bukan kecil banget sampai kamu kehabisan aktivitas, tapi cukup kecil buat kamu merasa “aku bisa keliling”.
Dan kelilingnya paling asik ya pakai sepeda, cara lama yang nggak pernah benar-benar kalah sama tren.
Ada sesuatu yang tradisional tapi menenangkan saat kamu gowes pelan, disapa warga, lalu berhenti di warung kecil.
Ini bukan Bali. Ini Pulau Pari—versi yang lebih dekat, lebih sederhana, dan lebih apa adanya.
Aktivitas di Pulau Pari itu simpel, dan justru karena simpel kamu perlu milih mana yang kamu mau.
Yang paling umum: sepeda, pantai, snorkeling, dan jelajah mangrove—sisanya bonus tergantung cuaca dan energi kamu.
Kalau kamu pengin daftar aktivitas versi lebih detail (plus opsi yang cocok buat keluarga/couple), aku taruh juga di halaman
aktivitas seru di Pulau Pari supaya kamu bisa nyusun agenda yang masuk akal.
Pulau penduduk itu paling enak dinikmati pelan. Sepeda bikin kamu fleksibel: mau berhenti foto, mau jajan, mau cari spot sepi—tinggal rem.
Tips kecil: kalau kamu nggak biasa gowes jauh, santai aja. Ini bukan lomba. Yang penting kamu nggak tumbang sebelum sunset.
Pantai Pasir Perawan sering jadi basecamp. Banyak orang datang buat piknik kecil, main air, atau sekadar duduk sambil ngeliat laut.
Kalau kamu bawa anak kecil, tetap pegang prinsip lama yang paling benar: anak + air = wajib diawasi, walau airnya terlihat dangkal.
Laut itu bisa baik, tapi juga bisa berubah cepat.
Snorkeling biasanya jadi highlight, tapi ini aktivitas yang paling bergantung sama kondisi laut.
Air keruh, angin kencang, ombak naik—snorkeling jadi “yaudah, next time”.
Kalau kamu nggak bisa berenang, biasanya bisa pakai pelampung/life jacket dan ikut guide.
Tapi tetap: jangan malu bilang “aku panikan” dari awal, biar guide bisa ngatur ritmenya.
Mangrove cocok buat kamu yang gampang capek kena matahari. Jalurnya relatif santai dan bisa jadi spot foto yang beda dari pantai.
Kadang orang skip mangrove karena “ah, pohon doang”. Padahal ini salah satu cara biar liburan kamu nggak cuma isi galeri pasir dan langit.
Ini mungkin terdengar receh, tapi sering jadi memori paling awet. Duduk di warung, minum es, denger cerita warga—itu vibe yang nggak bisa kamu beli di “tempat wisata yang terlalu rapi”.
Dan yes, kadang warungnya sederhana. Tapi justru itu: kamu sedang bertamu ke pulau penduduk, bukan ke mal.
Penginapan di Pulau Pari umumnya berbentuk homestay yang dikelola warga, dengan fasilitas yang cukup buat istirahat.
Kalau kamu cari hotel gaya kota dengan standar seragam, kamu mungkin harus menurunin ekspektasi—atau pilih pulau resort lain.
Yang membuat homestay Pulau Pari menarik itu bukan kemewahannya, tapi fungsinya: kamu dapat tempat tidur, kamar mandi, dan akses gampang ke aktivitas.
Sisanya, kamu bikin sendiri.
Aku sengaja nggak nyebut nama-nama spesifik di sini, karena di pulau penduduk kondisi bisa berubah (renovasi, pindah pengelola, fasilitas naik turun).
Yang aman: tanya detail sebelum booking.
Ini checklist “cara lama” yang masih relevan banget:
Kalau kamu tipe yang gampang “ke-trigger” sama hal kecil, mending ambil yang lebih jelas dari awal.
Liburan itu harusnya ngurangin stres, bukan nambahin.
Paket wisata Pulau Pari cocok buat kamu yang pengin lebih ringkas: urusan kapal, penginapan, makan, dan aktivitas sudah dirapihin.
Tapi paket juga bukan mantra anti-masalah—kamu tetap perlu baca detailnya biar nggak salah paham.
Ada dua pola yang paling umum: open trip (gabungan) dan private trip.
Open trip biasanya lebih hemat tapi jadwalnya lebih “rame rame”, sementara private trip lebih fleksibel tapi biayanya biasanya lebih tinggi.
Open trip cocok kalau kamu santai ketemu orang baru dan nggak masalah itinerary-nya “pakem”.
Ini vibe-nya bisa seru, tapi kamu juga harus siap kompromi—misalnya waktu kumpul dan durasi di spot.
Private trip cocok kalau kamu bawa keluarga kecil, couple yang pengin lebih tenang, atau rombongan yang mau agenda sendiri.
Biasanya lebih enak buat yang bawa anak, karena ritmenya bisa disesuaikan.
Tergantung operator, tapi pola umum paket Pulau Pari sering mencakup:
Yang sering bikin orang “kecewa” itu bukan paketnya jelek, tapi asumsi yang terlalu liar.
Jadi baca: apakah include alat snorkeling? include dokumentasi? include retribusi? detail kecil ini yang bikin budget kamu aman.
Itinerary 1 hari (tempo cepat): berangkat pagi, tiba siang, pantai + sepeda, aktivitas air jika memungkinkan, lalu balik sesuai jadwal kapal.
Ini cocok buat yang cuma butuh “nafas” sebentar.
Itinerary 2H1M (tempo manusiawi): hari pertama santai keliling pulau + pantai, sore bisa aktivitas air kalau cuaca bagus, malam istirahat.
Hari kedua biasanya lebih ringan, lalu pulang.
Itinerary 3H2M (tempo pelan): ini buat kamu yang pengin beneran lepas dari mode “dikejar jam”.
Lebih banyak waktu buat mangrove, ngobrol, dan menikmati pulau tanpa buru-buru.
Kalau kamu pengin opsi yang paling simple untuk dibandingin (tanpa harus ribet cari satu-satu), kamu bisa lihat gambaran
paket wisata Pulau Pari 1 hari,
paket Pulau Pari 2 hari 1 malam,
atau
paket 3 hari 2 malam—baca pelan, cocokin sama gaya liburan kamu, jangan cuma ikut trend.
Harga liburan ke Pulau Pari itu gabungan beberapa komponen: kapal, penginapan, makan, aktivitas, dan biaya kecil lain-lain.
Yang paling sering berubah biasanya transport dan paket aktivitas, jadi aman-nya selalu pakai kisaran dan tetap cek update terbaru.
Di bagian ini aku fokus bantu kamu melihat struktur biayanya dulu. Karena jujur, yang bikin tekor itu sering bukan “harga Pulau Pari mahal”, tapi kamu lupa ngitung satu-dua komponen yang kelihatannya kecil.
Agar nggak halu, kita pakai kisaran dan frasa aman.
Kalau kamu butuh pembahasan yang lebih spesifik per tahun (buat bandingin tren dan ngatur budget), kamu bisa cek rangkuman
harga Pulau Pari 2025 dan
update harga Pulau Pari 2026—tetap dengan catatan: cek update terbaru sebelum eksekusi.
Beberapa titik wisata biasanya ada retribusi/tiket masuk yang nominalnya relatif kecil (sering disebut “beberapa ribu rupiah” per orang).
Pantai Pasir Perawan juga sering diberlakukan tiket masuk sekitar Rp{{5.000}}/orang/hari (bisa berubah tergantung pengelola).
Nominal kecil ini sering bikin orang cuek, lalu kaget pas ditotal bareng yang lain. Bukan bikin miskin sih, tapi bikin kesel kalau kamu tipe yang suka hitung rapi.
Patokan ini sengaja pakai kisaran dan placeholder, karena harga bisa berubah tergantung musim/operator/jenis kamar. Anggap ini peta, bukan angka sakti.
Asumsi: perjalanan 2H1M (paling umum untuk “nggak kejar-kejaran”), per orang.
| Komponen | Hemat | Standar | Nyaman |
|---|---|---|---|
| Kapal PP | Kali Adem/Dishub Rp{{88.000}}–Rp{{140.000}} | Kali Adem (opsi non-Dishub) Rp{{120.000}}–Rp{{160.000}} | Marina Ancol Rp{{360.000}}–Rp{{420.000}} (belum biaya Ancol bila ada) |
| Penginapan 1 malam | Homestay basic Rp{{…}}–Rp{{…}} | Homestay AC standar Rp{{…}}–Rp{{…}} | Homestay/cottage lebih nyaman Rp{{…}}–Rp{{…}} |
| Makan & minum | Warung lokal Rp{{…}}–Rp{{…}} | Mix warung + paket makan Rp{{…}}–Rp{{…}} | Lebih fleksibel (termasuk seafood) Rp{{…}}–Rp{{…}} |
| Aktivitas | Sepeda + pantai Rp{{…}}–Rp{{…}} | Sepeda + snorkeling Rp{{…}}–Rp{{…}} | Snorkeling + opsi perahu/dokum Rp{{…}}–Rp{{…}} |
| Biaya kecil lain | Retribusi/parkir/dll Rp{{…}} | Retribusi/parkir/dll Rp{{…}} | Retribusi/parkir/dll Rp{{…}} |
| Total perkiraan | Rp{{…}}–Rp{{…}} | Rp{{…}}–Rp{{…}} | Rp{{…}}–Rp{{…}} |
Faktor variabel yang paling sering bikin budget geser:
Kalau kamu pengin contoh hitungan yang lebih “relate” untuk pasangan, ada breakdown khusus di
biaya ke Pulau Pari untuk 2 orang—itu biasanya membantu buat ngerem ekspektasi sebelum keburu booking.
Cara ke Pulau Pari dari Jakarta pada dasarnya cuma dua jalur utama: via Kali Adem (Muara Angke) atau via Marina Ancol.
Pilihannya bukan soal “mana yang benar”, tapi mana yang cocok sama waktu, budget, dan tingkat toleransi kamu terhadap antrean.
Kalau kamu pengin versi step-by-step yang super rinci, aku juga punya panduan khusus
cara ke Pulau Pari dari Jakarta—tapi di sini kita ringkas yang paling penting.
Kalau kamu mau yang lebih ramah budget dan nggak masalah perjalanan lebih lama, jalur Kali Adem sering jadi pilihan.
Suasananya lebih “pelabuhan beneran”—ramai, dinamis, kadang semrawut tipis-tipis.
Kamu biasanya perlu datang lebih pagi, karena proses beli tiket/boarding bisa makan waktu, apalagi weekend.
Untuk detail rute, titik kumpul, dan trik anti salah jalur, ada panduan khusus
berangkat ke Pulau Pari dari Kali Adem.
Kalau kamu kejar waktu atau bawa keluarga yang butuh perjalanan lebih nyaman, speedboat dari Marina Ancol bisa jadi opsi.
Tapi kamu perlu siap kemungkinan biaya tambahan terkait akses kawasan Ancol, dan prosedur masuk/registrasi yang bisa berbeda tiap periode.
Untuk gambaran lengkap (termasuk hal-hal kecil yang sering bikin orang kecele), cek
cara ke Pulau Pari dari Marina Ancol.
| Faktor | Kali Adem (Muara Angke) | Marina Ancol |
|---|---|---|
| Budget | Umumnya lebih hemat | Umumnya lebih mahal |
| Durasi laut | Umumnya ±1,5–2 jam (tergantung kapal/cuaca) | Umumnya ±1 jam (tergantung cuaca) |
| Ritme pelabuhan | Lebih “hidup” & bisa padat | Lebih rapi, tapi tetap bisa ramai |
| Biaya tambahan | Biasanya minim (cek parkir/retribusi) | Potensi tiket/biaya akses Ancol (tergantung aturan) |
| Cocok untuk | Backpacker, rombongan santai, yang fleksibel | Keluarga kecil, yang kejar waktu/lebih nyaman |
| Risiko telat/antre | Lebih kerasa di weekend | Bisa antre juga, tapi alurnya biasanya lebih jelas |
| Catatan penting | Datang lebih pagi itu bukan saran, itu penyelamat | Tetap datang lebih awal, jangan mepet |
Kalau kamu masih bingung, coba tanya diri sendiri: kamu lebih takut capek atau lebih takut keluar uang?
Pertanyaan itu biasanya langsung memperjelas pilihan.
Jadwal kapal ke Pulau Pari umumnya bermain di pola berangkat pagi dari Jakarta dan pulang siang–sore dari pulau, tapi jam pastinya bisa berubah.
Jadi yang paling waras: pakai jadwal sebagai patokan, bukan sebagai “janji kosmik”.
Kuncinya: cek H-1 atau pagi hari sebelum berangkat. Cuaca dan operasional pelabuhan itu kadang kayak mood manusia—nggak selalu stabil.
Banyak orang kalah bukan karena salah pulau, tapi karena salah manajemen waktu. Dan ya, itu menyebalkan karena sebenarnya bisa dicegah.
Waktu terbaik ke Pulau Pari biasanya saat laut cenderung lebih bersahabat dan langit lebih terang—umumnya di musim kemarau—tapi itu tetap bukan garansi.
Kalau tujuanmu menghindari keramaian, weekday hampir selalu lebih aman dibanding weekend.
Secara umum, musim kemarau sering dianggap lebih “stabil” untuk aktivitas laut.
Musim hujan bisa membawa angin dan ombak yang lebih random, yang kadang bikin snorkeling batal atau jadwal kapal bergeser.
Kalau kamu punya tanggal yang fleksibel, pilih tanggal yang nggak mepet long weekend.
Kalau kamu nggak fleksibel, minimal siap mental: plan A bisa berubah jadi plan B.
Weekday biasanya lebih tenang, lebih nyaman buat foto, dan lebih enak buat keluarga yang nggak mau desak-desakan.
Weekend lebih ramai, tapi vibe-nya juga lebih “hidup”—tinggal kamu prefer yang mana.
Kalau kamu tipe yang gampang capek sama keramaian, jangan sok-sokan pilih weekend cuma karena “biar rame”. Rame itu bukan selalu fun.
Tips paling penting ke Pulau Pari: jangan datang dengan ekspektasi kota, dan jangan datang tanpa buffer waktu.
Kalau kamu pengin versi checklist yang lebih singkat dan gampang dicentang, aku juga taruh di halaman
tips ke Pulau Pari—biar kamu nggak kelupaan hal kecil yang justru krusial.
Pulau Pari itu rumah orang. Jadi jaga volume, jaga sampah, dan jaga sikap.
Tradisi lama yang paling bener: kalau kamu bertamu, kamu menyesuaikan diri. Nggak ada yang rugi dari bersikap sopan.
Pulau Pari cocok buat kamu yang cari liburan dekat Jakarta dengan ritme santai dan suasana pulau penduduk.
Kurang cocok buat kamu yang pengin resort mewah atau hiburan malam yang heboh—di sini fokusnya lebih ke laut, angin, dan kegiatan sederhana.
Pulau Pari bukan buat semua orang, dan itu nggak masalah. Yang masalah itu maksa datang dengan ekspektasi yang salah.
Pulau Pari itu semacam “titik tengah”: nggak se-ramai dan se-komersial beberapa pulau populer, tapi juga nggak se-private pulau resort.
Kalau kamu lagi bandingin, pertanyaan intinya: kamu cari ramai & fasilitas, atau lebih tenang & sederhana?
Buat perbandingan yang lebih detail, kamu bisa baca versi khusus
Pulau Pari vs Pulau Tidung
dan kalau kamu lagi kepikiran opsi resort vibe, ada juga
Pulau Pari vs Pulau Sepa.
Di sini aku ringkas dulu.
| Aspek | Pulau Pari | Pulau Tidung | Pulau Pramuka | Pulau resort (contoh tipe Sepa) |
|---|---|---|---|---|
| Vibes | Santai, pulau penduduk | Lebih ramai & populer | Lebih “pusat” (administrasi/edukasi) | Lebih privat & terkurasi |
| Aktivitas utama | Pantai, sepeda, snorkeling, mangrove | Pantai, spot foto, aktivitas rame | Edukasi + wisata | Resort-style, fasilitas lebih lengkap |
| Cocok untuk | First-timer, keluarga kecil, couple | Rombongan yang suka ramai | Yang pengin campuran wisata/edukasi | Yang cari kenyamanan premium |
| Budget | Relatif fleksibel | Fleksibel, tergantung gaya | Fleksibel | Umumnya lebih tinggi |
Nggak ada yang paling benar. Yang ada: mana yang paling cocok buat tujuan kamu.
Ini jawaban cepat buat pertanyaan yang paling sering muncul sebelum berangkat. Kalau kamu membaca ini pas H-1 dan baru panik, ya… setidaknya kamu paniknya sekarang, bukan di dermaga.
Pulau Pari berada di wilayah Kepulauan Seribu (DKI Jakarta) dan merupakan pulau penduduk yang cukup sering dikunjungi wisatawan. Lokasinya relatif dekat dari Jakarta dibanding pulau yang lebih utara.
Umumnya perjalanan laut berkisar ±1–2 jam, tergantung titik keberangkatan (Kali Adem atau Marina Ancol) dan kondisi laut. Kalau ombak lagi “nggak mood”, durasinya bisa terasa lebih panjang.
Bisa, dan cukup banyak yang melakukannya. Tapi ritmenya padat: berangkat pagi, aktivitas terbatas, lalu pulang sesuai jadwal kapal.
Kalau kamu tipe yang gampang capek, paket 2H1M biasanya lebih manusiawi.
Kalau prioritasmu hemat, Kali Adem sering jadi pilihan. Kalau prioritasmu cepat dan lebih rapi, Marina Ancol biasanya lebih nyaman.
Jawaban paling jujur: tergantung kamu lebih takut capek atau lebih takut keluar uang.
Di weekend, long weekend, atau libur sekolah, booking lebih awal sering jadi penyelamat. Di hari biasa kadang lebih fleksibel, tapi tetap ada risiko kehabisan kuota.
Biasanya ada retribusi atau tiket masuk dengan nominal kecil, tergantung lokasi dan pengelola. Pantai Pasir Perawan sering disebut memiliki tiket sekitar Rp{{5.000}}/orang/hari, namun angka ini bisa berubah—selalu cek update terbaru.
Umumnya tersedia, tapi kualitas sinyal bisa berbeda tergantung provider dan cuaca. Kalau kamu butuh internet stabil untuk kerja, jujur saja: jangan berharap 100% mulus.
Listrik biasanya aman, tapi tetap bijak—bawa powerbank dan jangan baru panik saat baterai 2%.
ATM terbatas, dan cash tetap paling aman untuk warung, sewa sepeda, dan retribusi kecil.
Untuk gambaran biaya, kamu bisa lihat referensi di biaya ke Pulau Pari untuk 2 orang , lalu sesuaikan dengan jumlah peserta dan gaya jalanmu.
Relatif aman dengan pengawasan penuh. Anak sebaiknya selalu diawasi dekat air dan memakai pelampung saat aktivitas laut.
Jangan lengah hanya karena air terlihat dangkal.
Biasanya bisa, karena pelampung dan guide umumnya tersedia. Tapi sampaikan dari awal jika kamu takut air, supaya ritmenya disesuaikan dan tidak memaksa.
Aktivitas laut bisa dibatalkan dan jadwal kapal dapat berubah atau ditunda. Kebijakan refund dan reschedule berbeda-beda tiap operator.
Satu hal yang perlu kamu siapin sebelum ke pulau: alam punya hak veto.
Tiga besar penyebabnya: telat ke pelabuhan, ekspektasi terlalu tinggi (ngira pulau resort), dan nggak ngitung biaya kecil seperti retribusi atau sewa.
Sisanya biasanya efek domino dari tiga hal itu.
Pulau Pari layak kalau kamu cari liburan dekat Jakarta yang bisa bikin kepala lebih ringan—dengan catatan: kamu datang dengan ekspektasi realistis. Ini pulau penduduk yang santai, bukan panggung wisata yang sempurna. Ada hal yang bisa bikin kamu senyum, ada juga hal kecil yang bisa bikin kamu ngedumel.
Kalau kamu sudah tahu mau berangkat kapan, berapa orang, dan prefer “hemat vs nyaman”, kamu sebenarnya sudah 70% aman dari zonk. Sisanya tinggal eksekusi rapi: pilih jalur kapal yang pas, siapin buffer waktu, dan jangan maksa aktivitas laut kalau cuaca nggak mendukung.
Kalau kamu pengin diskusi santai soal itinerary yang masuk akal (misalnya: 1 hari cukup nggak, atau 2H1M lebih worth it buat keluarga), kamu boleh konsultasi aja—kasih detail tanggal & jumlah orang, nanti kita bantu arahkan opsi yang paling realistis buat budget kamu.